Sabtu, 28 Juni 2008

Gubernur Jakarta Dari Masa Ke Masa

Dalam rangka ultah Jakarta ke-481, gak ada salahnya kita menengok lagi orang-orang yang pernah jadi nomor 1 di Jakarta dari masa ke masa.

1. Suwirjo
(1945-1947 dan 1950-1951)
Sebagai walikota pertama Jakarta, Suwirjo, pria kelahiran Wonogiri, Jawa Timur 1903 ini mulai berperan aktif mengembangkan Jakarta. Menuntut ilmu hukum di Batavia, mengharuskan ia aktif dalam pergerakan kebangsaan. Sebagai gubernur ibukota negara yang masih baru, beban yang ia tanggung amat berat. Pasalnya, paska Indonesia merdeka, Jakarta didominasi dengan perjuangan melawan penjajahan Belanda. Karena inilah masa jabatan Suwirjo sempat terputus karena dia ditangkap Belanda.

Di era kepemimpinannya Suwirjo dipusingkan oleh persoalan tanah yang menjadi problema utama Kota Jakarta. Ketika Jepang masuk ke Indonesia (1942-1945), mereka menawarkan sesuatu yang menarik kepada warga Jakarta, yaitu untuk menggunakan semua tanah kosong, bahkan taman, untuk bercocok tanam. Semua tanah digunakan tanpa pertimbangan, konsultasi atau bayar sewa kepada pemilik yang sah, tanpa adanya pendaftaran dari pihak yang bersangkutan. Akibatnya terjadi kebingungan atas hak kepengurusan dan kepemilikan tanah. Oleh karena itu munculah kebijakan mengenai tanah. Ia memutuskan agar semua tanah harus didaftar menurut nama pemilik, termasuk ukuran, penggunaan dan sejarah kepemilikan. Meski demikian, ia tak mampu membuat kebijakan atas tanah secara spesifik. Tugas tersebut dibebankan pada penggantinya, Sjamsuridjal.

2. Sjamsuridjal
(1951-1953)
Sebelum menduduki posisi Gubernur Jakarta, Sjamsuridjal menjabat sebagai walikota Bandung dan Solo. Selain mengkritis permasalahan tanah, kebijakan yang cukup terkenal pada masa kepemimpinannya adalah permasalahan listrik. Tak hanya itu, berbagai permasalahan seperti air minum, pelayanan kesehatan dan pendidikan turut diprioritaskan.

Satu persatu masalah terpecahkan. Untuk mengatasi masalah listrik yang sering padam Sjamsuridjal membangun pembangkit listrik di Ancol. Sedangkan untuk meningkatkan ketersediaan air minum, dia membangun penyaringan air di Karet, penambahan pipa dan meningkatkan suplai air dari Bogor. Di bidang pendidikan ia mendukung pengembangan Universitas Indonesia.

3. Sudiro
(1953-1960)
Ketika Jakarta mendapat status administratif tingkat I, kebijakan yang dijalankannya waktu itu adalah pemecahan wilayah terkecil, Rukung Tetangga (RT) dan Rukun Kampung (RK) yang kemudian berubah menjadi Rukun Warga (RW). Ia juga memecah Jakarta menjadi 3 wilayah administratif yang disebut kabupaten yang dikepalai oleh seorang patih. Tiga wilayah itu adalah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Utara.

Yang tak kalah penting adalah lahirnya ide membangun Monumen Nasional. Inisiatifnya berasal dari Sarwoko, Presiden Soekarno pun mendukung gagasan tersebut. Pada Desember 1959 Sudiro memutuskan mundur sebagai kepala pemerintahan Jakarta.

4. Soemarno Sosroatmodjo
(1960-1964 dan 1965-1966)
Pada masa kepemimpinan Soemarno beberapa bangunan penting akhirnya resmi dibangun. Selain Monas ada juga Patung Selamat Datang dan Patung Pahlawan di Menteng. Tak hanya itu, pembuatan rumah minimum ikut dilaksanakan. Proyek rumah minimum pertama dibangun di Raden Saleh, Karang Anyar, Tanjung Priok dan Bandengan Selatan. Pada masa pemerintahannya, gubernur yang sekaligus dokter yang juga brigadir jenderal TNI ini dihadapkan pada masalah besar yang berkaitan dengan pembebasan Irian Jaya dan demonstrasi Ganyang Malaysia.

5. Henk Ngantung
(1964-1965)
Sebelum menjadi Gubernur Jakarta, dia menjabat sebagai wakil gubernur dibawah Soemarno atas prakarsa Presiden Soekarno. Pengangkatan ini menimbulkan pro dan kontra. Harapan Soekarno terhadap Ngantung adalah menjadikan Jakarta sebagai kota budaya. Dengan darah seni yang mengalir di tubuhnya, Ngantung dinilai memiliki bakat artistik. Henk Ngantung dikenal sebagai pelukis tanpa pendidikan formal. Bersama Chairul Anwar dan Asrul Sani ia turut mendirikan Gelanggaang. Ngantung juga pernah menjadi pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok, 1955-1958. Seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini merupakan pemrakarsa berdirinya Sanggar Gotong Royong.

6. H. Ali Sadikin
(1966-1977)
Pria yang sangat kritis terhadap Pemerintahan Orba ini sejak kecil bercita-cita menjadi seorang pelaut. Cita-cita yang berbeda dibanding anak lainnya. Pendidikannya pun selalu berpindah-pindah. Mengenyam pendidikan dasar hingga menengah pertama di kota kelahiran, membuat ia harus melanjutkan SMA-nya di Bandung. Tahun 1945 barulah ia masuk Sekolah Pelayaran Tinggi, Semarang. Ketika revolusi, Bang Ali masuk BKR Laut (TNI AL). Ia pun dikirim ke Tegal, Jawa Tengah, untuk membentuk pangkalan AL. Saat itu ia juga membentuk Korps Marinir. Selain itu ia menjabat sebagai Deputi II Menteri Pangal dan diangkat menjadi Menteri Perhubungan Laut, lalu baru menjadi gubernur.

Pria kelahiran Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927 ini boleh dbilang cukup populer di antara warganya. Andilnya cukup besar dalam membangun berbagai prasarana Kota Jakarta. Instansi pendidikan, rumah sakit, sarana ibadah, pasar dan gedun, semua dikerjakannya. Yang lebih menghebohkan, guna mengisi kas pendapatan daerah beliau menyetujui adanya kasino dengan pajak yang tinggi. Bang Ali juga mendirikan Taman Ismail Marzuki. Kerja kerasnya membuat ia dianugerahi penghargaan Magsaysay dari Filipina pada tahun 1971.

7. Tjokropranolo
(1977-1982)
Bang Nolly, begitu ia kerap disapa adalah seorang kapten di masa revolusi fisik. Dahulunya ia adalah pengawal pribadi Panglima Besar Sudirman. Ia juga yang meloloskan Pak Dirman dari serangan Belanda yang berulang kali mencoba membunuhnya. Dalam karier militernya, ia pernah menjabat Asintel Siaga, Sekretaris Militer untuk Presiden. Pada Juli 1977 ia dilantik sebagai Gubernur Jakarta. Sebelumnya Tjokropranolo adalah asisten Gubernur Ali Sadikin.

Pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 20 Mei 1924, memanfaatkan pangkat gubernurnya untuk lebih peduli terhadap nasib buruh. Ia sering mengunjungi berbagai pabrik untuk mengecek kesejahteraan buruh dan mempertimbangkan langsung tentang upah pekerja. Tak hanya itu, anak bupati Temanggung ini mengalokasikan sekitar 425 tempat untuk 46.000 pedagang kecil agar dapat berdagang secara legal.

8. Soeprapto
(1982-1987)
Berlatar belakang militer, di masa agresi Belanda Soeprapto adalah Komandan Kompi Peta. Ia memimpin pertempuran di front Srondol, Semarang. Karier militernya berlanjut, ia pernah menjabat Danmen Taruna Akmil, Asiten 2/OPS Kodam VII Diponegoro, Kasdam XVII/Cendrawasih, sampai Panglima Kodam XVI/Udayana.
Sebelum menjabat gubernur, beliau menjabat Sekretaris Jenderal Depdagri.

Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 12 Agustus 1924 ini dinilai mampu menangani masalah Jakarta yang kompleks. Ia memulai tugas kepemimpinannya dengan mengajukan konsep yang pragmatis dan bersih tentang pembangunan Jakarta sebagai ibukota. Pengalamannya di bidang militer membuat ia harus fokus terhadap stabilitas, keamanan dan ketertiban Kota Jakarta. Salah satu kiprahnya, Soeprapto membuat master plan DKI Jakarta untuk periode 1985-2005 yang dikenal sebagai Rencana Umum Tata Ruang dan Rencana Bagian Wilayah Kota.

9. Wiyogo Atmodarminto
(1987-1992)
Boleh di bilang di era Gubernur Wiyogo konsep BMW (Bersih, Manusiawi dan berWibawa) dicanangkan di jakarta. Strategi ini tak sepenuhnya berhasil. Masih banyak sampah berserakan dan masih banyak ketakpedulian pada sesama. Pria kelahiran 22 November 1922 ini lebih banyak berkunjung ke berbagai tempat di Jakarta dari pada harus diam saja. Bang Wi, begitu ia dikenal, terkenal sebagai orang yang berpikiran terbuka dan disiplin. Ia peduli terhadap masalah yang melanda Kota Jakarta, misalhnya mengurus masalah becak.

10. Surjadi Soedirdja
(1992-1997)
Di era '90-an, Surjadi Soedirdja berperan dalam proyek pembangunan rumah susun, menciptakan kawasan hijau dan memperbanyak daerah resapan air. Tapi banyak juga proyeknya yang belum terwujud sampai sekarang, misalnya proyek subway dan jalan susun 3 (triple decker). Yang jelas, Surjadi berhasil membebaskan Jakarta dari becak.

11. Sutiyoso
(1997-2002 dan 2002-2007)
Sutiyoso memang memiliki riwayat karier militer yang membuatnya pantas memimpin pengamanan ibukota. Pria kelahiran Semarang, 6 Desember 1944 ini, lulus dari Akademi Militer Nasional, Magelang, tahun 1968. Ia seangkatan dengan mantang Panglima TNI Jenderal (Purn.) Wiranto dan mantan Gubernur Lemhanas Let. Jend (Purn.) Agum Gumelar.
Karier Sutiyosa sebagian besar berjalan di lingkungan pasukan elit Kopassus, dimulai dengan komandan peleton, komandan kompi, kepala seksi 1, komandan karsa yudha, wakil komandan grup 1, sampai wakil komandan Kopassus. Sebelum menjadi wakil komandan Kopassus, ia sempat menjadi asisten operasi kostrad. Sebelum memimpin Kodam Jaya, ia diangkat sebagai komandan korem 061/Surya Kencana di Bogor, Jaw Barat (1993-1994), dan kepala staf Kodam Jaya (1994-1996).

Keberhasilannya mengamankan Jakarta dalam pemilu kala itu, serta seringnya mengerahkan pasukan untuk menggerebek tempat-tempat judi dan arena maksiat lainnya di ibukota memuluskan niatnya untuk menuju Balai Kota pada 6 Oktober 1997 sebagai Gubernur DKI Jakarta. Selama 2 periode bersama Fauzi Bowo beliau berkiprah untuk Kota Jakarta. Hingga akhir kariernya, belum banyak sumbangsihnya pada Jakarta.

12. Fauzi Bowo
(2007-2012)
Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raum Und Umweltplanung-Baungenieurwesen, Universitat Kaiserlautern, Jerman, 2000, ini seorang pekerja keras dan disiplin. Bang Fauzi, sapaan akrab Fauzi Bowo lebih memilih berkarya dari pada banyak bicara.
Pria kelahiran Jakarta, 10 April 1948 ini dibesarkan di Jakarta dari keluarga Betawi yang berpendidikan. Sempat masuk Fakultas Tehnik Universitas Indonesia 1966/67 sebelum kemudian melanjutkannya di Technische Universitat di Brunschweig, Jerman. Dari universitas ia meraih gelar sarjana arsitektur bidang perencanaan kota dan wilayah. Beberapa tahun kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Universitat Kaiserlautern, Jerman dan mendapat gelar Doktor Ingenieur dengan predikat cum laude dengan thesis tentang pola tata ruang Kota Jakarta.

Suami dari Hj. Sri Hartati dan ayah dari 2 anak ini kemudian mendalami pendidikan pemerintahan dan kepemimpinan dengan mengikuti Sespanas (1987) dan Lemhanas (2000). Sejak mahasiswa aktif di berbagai organisasi. Ketika di UI ia salah seorang aktifis KAMI. Saat kuliah di Jerman ia juga aktif dalam organisasi Persatuan Pelajar Indonesia di Jerman Barat. Kini di era kepemimpinannya sebagai gubernur, apa yang akan diperbuat untuk kota kelahirannya? Akankah membawa perubahan yang positif dan membangun Jakarta yang lebih tertib, teratur, bersih dan cerdas? KIta lihat saja bersama.

Jika Anda mengklik sponsor saya disamping, berarti Anda telah membantu saya jadi gubernur. Gak banget deh... Ya klik aja deh... Hehehe
 


Design by: Blogger XML Skins | Distributed by: Blogger Templates